Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

Hakikat kebenaran sesungguhnya


Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.(8:17)


Dan tidak ada pertolongan itu kecuali dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (3:126)
Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (81:29)

Sesungguhnya sebab-sebab lahiriah itu tidak ada hakikat dan wujudnya. Karena tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya dan tidak ada wujud hakiki kecuali wujud-Nya, sehingga tidak ada hakikat bagi suatu tindakan kecuali Kehendak dan Izin-Nya

Maka, untuk apa hati bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakikatnya!. Karena itu, al-Quran menjauhkan orang-orang beriman dari terpengaruh oleh sebab-sebab lahir dan menghubungkan semua urusan secara langsung kepada kehendak Allah.

Dengan menjauhkan semua sebab lahiriah dan mengembalikan segala urusan kepada Allah, maka akan tercurahlah ketentraman di dalam hati. Tahu arah dan tujuan satu-satunya untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan, dan menjauhkan apa yang di takuti. Juga untuk menenangkan dan memantapkan hati di dalam menghadapi dampak-dampak, pengaruh-pengaruh, dan sebab-sebab lahiriah yang sebenarnya tidak ada hakikat dan wujudnya.

Senin, 17 Desember 2012

kalbu


Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya. (57:16)

Di dalam Al Quran terdapat sesuatu yang menghidupkan kalbu bagaikan air yang menghidupkan bumi berikut makanan dan kesegaran yang di hasilkannya..

Di dalam Al Quran terdapat sesuatu yang menggelorakan kalbu pembacanya untuk selalu mentasbihkan-Nya dan memuji-Nya sebanyak-banyak-nya

Minggu, 09 Desember 2012

Iman atas dasar apakah ?

 
Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. (45:3-6)

Alam semesta ini merupakan kitab kebenaran yang terbuka yang dapat di baca oleh setiap bahasa, bisa di kenali dengan segala cara dan sarana, dan bisa di telaah oleh orang biasa yang diam di kemah-kemah dan gubuk-gubuk, sebagai mana juga dapat di teliti
oleh manusia berbudaya tinggi yang tinggal di gedung-gedung dan istana.
Setiap orang dapat menelaahnya selaras dengan kadar pemahaman dan kesiapannya. Lalu, ia meraih bekal kebenaran dari padanya, jika ia menelaahnya dengan semangat mencari kebenaran. Kitab ini terbuka setiap saat Untuk menjadi pemikiran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali kepada-Nya.

Namun, ilmu modern telah memadamkan pemikiran ini atau telah memutus tali ikatan antara kalbu manusia dengan alam yang bercerita dengan terang. sebab, ilmu itu berada di kepala orang buta yang selalu dipalingkan oleh slogan 'Metode ilmiah" metode yang memutuskan hubungan antara alam semesta dengan makhluk yang tinggal di dalamnya

Minggu, 25 November 2012

muslim dengan dunianya



Barang siapa yang menghendaki sawah ladang akhirat akan Kami tambah sawah ladang itu baginya dan barang siapa yang menghendaki sawah ladang dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari sawah ladang dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat (42:20)
Seorang muslim menjalani kehidupan dunia ini sambil merasakan bahwa dirinya lebih lebih besar dan lebih mulia di banding dunia ini. Ia mengetahui dari Al Qurannya bahwa dunia ini adalah sawah ladang bagi kehidupan akhirat. Tidak ada jalan menuju akhirat yang tidak melewati dunia. Dunia ini adalah sesuatu yang kecil dan remeh. Namun, ia adalah nikmat Allah yang akan mengantarkan pada nikmat Allah yang lebih besar lagi

Ia kemudian menikmati apa yang ada di bumi atau menahan dirinya sambil mengetahui bahwa hal itu adalah halal baginya. Karena, ia meniatkan tindakannya sebagai ibadah yang ia nantikan balasannya di akhirat. Ia berusaha keras untuk membangun dunia ini dan memanfaatkan potensi yang ada di dunia, sambil menyadari bahwa semua itu adalah kewajiban yang harus ia lakukan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Ia berjuang melawan kejahatan, kerusakan, dan kezaliman, sambil menanggung kesulitan, aniaya, pengorbanan hingga mati syahid, dengan tujuan untuk mendapatkan balasan di akhirat

Sabtu, 24 November 2012

satu sikap kemunafikan


 Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu." Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (29:10-11)

Kemunafikkan itu pada hakekatnya tidak lain kecuali kelemahan dalam berpegang pada kebenaran secara terus menerus di dalam menghadapi kebatilan, maka jika jiwa seseorang itu tidak tulus karena Allah, selamanya dia tidak akan pernah bebas dari tekanan tata nilai dan peraturan-peraturan manusia, dari desakan-desakan dan kepentingan-kepentingan, dari berbagai peristiwa- peristiwa, dari kekuasaan dan penguasa, dari kerakusan, ketamakan, dan kekikiran. Ia tidak pernah memiliki cita-cita yang lebih tinggi dari keberuntungan dan keuntungan materi. Juga tak pernah merasakan kebebasan dan kemuliaan serta keluhuran yang biasa di rasakan oleh hati yang di penuhi iman kepada Allah

Rabu, 21 November 2012

kebebasan memilih

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (al Qomar:49)
Keimanan adalah sesuatu dan kesesatan juga adalah sesuatu. Sesuatu tidak akan pernah terjadi di dalam wujud ini kecuali sesuai dengan takdir Allah yang memutuskan

Orang yang memilih petunjuk atau kesesatan adalah sama-sama bertindak sesuai dengan sunah Allah pada makhluknya. Sesuai dengan kehendak-Nya bahwa manusia ini memiliki kebebasan untuk memilih yang kemudian mendapat balasan atas jalan hidup yang di pilihnya

Senin, 19 November 2012

kehidupan yang telah ditentukan Allah


Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan (8:24)

Kehidupan bukanlah senda gurau dan main-main. Hidup bukanlah sekedar makan-minum, seperti hewan, atau sekedar bersenang -
senang. Kehidupan bukanlah mencari selamat tapi dalam kehinaan, ketenangan dalam kebodohan, serta menerima kedamaian yang palsu dan rendah. Namun, hidup adalah berjuang di jalan kebenaran, berjihad di jalan kebaikan, berjuang untuk menegakkan kalimat Allah, atau menjadi syahid dalam perjuangan itu. Kemudian mendapat balasan surga dan keridhoan Allah
Inilah kehidupan yang telah dipilih dan di tentukan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada. Sungguh, Maha Benar Allah dan benarlah Rasulullah
nara sumber 
catatan ustad Riko Syafei

Jumat, 16 November 2012

Manisnya Iman ... Pahitnya kekufuran

Hati yang beriman mengetahui betapa berharganya petunjuk sesudah kesesatan, betapa berharganya pengetahuan sesudah kegelapan, betapa berharganya mampu bersikap istiqomah di atas jalan kebenaran sesudah kebingungan, betapa berharganya kemantapan terhadap kebenaran sesudah goncang dan goyang, betapa berharganya terbebas dari menyembah sesama hamba kepada menyembah Allah saja, dan betapa berharganya

perhatian yang tinggi dalam urusan yang besar sesudah bermain-main dengan perhatian yang kecil dalam urusan yang rendah. Dia mengerti Allah telah memberi semua bekal itu dengan keimanan

Karena itu, dia merasa sayang kalau harus kembali kepada kesesatan, sebagaimana orang yang telah merasakan segarnya naungan merasa sayang kalau harus
kembali ke tempat yang panas terik menyengat. Dia menyadari bahwa di dalam kecerahan iman terdapat sesuatu yang manis dan tak dapat di capai kecuali oleh orang yang pernah merasakan keringnya kekufuran dan kesengsaraan yang pahit. Dan, didalam ketenangan iman terdapat sesuatu yang manis yang tidak di dapati kecuali oleh orang yang pernah merasakan kesengsaran dan gelapnya kesesatan.

Oleh karena itulah, orang-orang yang beriman menghadap kepada Rabb mereka dengan doa yang khusuk ini:

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya." Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.( Ali Imran:8-9)
 
 sumber : Riko Syafei

Kamis, 15 November 2012

jiwa takwa

Takwa merupakan kondisi yang menjadikan hati selalu waspada dan sensitif, menghadirkan dan merasakan pengawasan Allah dalam setiap keadaan. Takut, merasa bersalah, dan malu bila Allah mendapatinya berada dalam keadaan yang di benci-Nya. Pengawasan atas setiap hati selalu terjadi setiap waktu dan setiap saat. Jadi kapan seseorang merasa aman dari penglihatan Allah?

Dan bertawalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti dengan apa yang kamu kerjakan (59:18)