kehancuran dunia beserta seluruh alam semesta atau yang lebih dikenal Kiamat sesungguhnya adalah fenomena yang telah diketahui akan terjadinya baik oleh orang terdahulu maupun sekarang . berita yang amat mengerikan ini begitu mengguncang seluruh manusia hingga manusia itu berusaha untuk mencari tahu kapan waktunya , hingga sains dan teknologi pun di jadikan alat agar tahu kapan terjadinya dan bagaimana caranya agar selamat dari kejadian tersebut .
bayangan manusia akan kiamat hanyalah sebatas kehancuran alam semesta saja , padahal kiamat adalah fase yang harus terjadi agar Allah membalas segala perbuatan manusia .alam semesta , bintang , bulan , matahari , bumi harus Allah hancurkan hanya sekedar untuk membalas perbuatan manusia . begitu besarnya urusan atas manusia hingga harus terjadi kiamat .
untuk lebih jauh dalam memahami kiamat marilah kita simak kajian surat An Naba (78) yang diulas dengan sederhana agar kita mengerti apa sesungguhnya kiamat itu
Islam bukanlah ritual sholat , puasa , zakat dan naik haji semata . melainkan islam adalah ideologi hidup bagi manusia dimuka bumi ini . islam adalah tatanan hidup yang dinamis , optimis dan jalan hidup untuk membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia kembali kepada ketaatan semata hanya kepada pemilik alam semesta ini ... Allah SWT
Tampilkan postingan dengan label alquran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alquran. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Maret 2013
Rabu, 27 Februari 2013
Meniti Jalan Kemenangan
Shalat adalah perintah utama di dalam Islam. Menegakkannya
berarti menegakkan dien ini … meninggalkannya berarti merobohkan dien
ini. Shalat adalah tiang penegak segala yang
ma'ruf dan pencegah
segala yang keji dan munkar. Shalat adalah sumber kekuatan, pengokoh
jiwa, serta senjata yang paling utama setiap mukmin … laksana senjata
terpenting yang tidak dapat ditinggalkan dalam kondisi paling genting
sekalipun, seperti perang karena ia adalah wasilah (perantara) dan
sebab datangnya pertolongan Allah yang berarti pula sebab datangnya
kemenangan. Karena tak akan pernah ada kemenangan jika tanpa pertolongan
dari Allah. Sementara pertolongan itu hanya diberikan Allah kepada
orang-orang yang benar-benar memantapkan shalatnya sehingga mampu
bersabar, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah 45 “Mintalah
pertolongan itu dengan sabar dan shalat”.
Allah menyuruh
kita agar selalu butuh pertolonganNya dalam setiap waktu dan keadaan
dengan sabar dan shalat karena seruan itu! ... seruan kepada ayat-ayat
Allah... sungguh sesuatu yang sangat berat. Allah Maha Tahu keadaan
hambaNya yang lemah dan tidak akan pernah sanggup apabila mengandalkan
kekuatannya sendiri untuk memikul beban berat tersebut. Maka hanya
dengan pertolonganNya, hamba yang lemah itu sanggup menjalankan setiap
ketentuanNya. Sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam lanjutan surat
al-Baqarah ayat 45 “Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat
kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.
Sabar adalah
kemampuan untuk tetap terus bergerak melaksanakan ketentuan-ketentuan
Allah dengan mantap dan kokoh. Kemampuan itu hanya dapat diperoleh dan
ditumbuhkan melalui shalat. Tidak akan dapat jiwa sabar itu tumbuh
kecuali jika shalat dilaksanakan dengan khusyu’, dan seseorang tidak
akan mampu melaksanakan shalat dengan khusyu’ kecuali dia mengerti
dengan benar tentang apa itu shalat !
Ketika sabar itu
benar ada dan terbukti, maka berhaklah dia atas pertolongan Allah. Dan
apabila pertolongan Allah telah tiba maka itulah kemenangan sebagaimana
hal itu telah ditetapkan Allah dalam surat An-Nasr ayat pertama
“apabila datang pertolongan Allah dan (pasti) menang“.
Demikianlah
kemenangan itu hanya akan datang ketika Allah berkehendak menurunkan
pertolonganNya. Dan pertolongan serta kemenangan itu hanya akan datang
menghampiri setiap diri yang khusyu’, yang memperhatikan shalat dengan
sebaik-baiknya, sebagaimana Allah telah menjamin kemenangan itu dalam
surat al-Mu’minun 1-2 “sungguh telah menang orang-orang yang beriman,
yaitu mereka yang khusyu’ di dalam shalatnya”.
Begitu
besar kedudukan dan dampak shalat, oleh karenanya perintah shalat di
dalam al-Quran selalu diiringi dengan kata “qum” (atau kata lain yang
terambil dari akar kata yang sama) yang bermakna “tegak, bangkit,
kokoh”, sebagaimana perintah shalat untuk pertama kali ditetapkan
dengan kata qum dalam surat al muzammil ayat 2 “qumillaila illa
qoliila” atau dalam surat al mudatstsir ayat 2 “qum fa andzir”.
“Qum”
memiliki makna perintah “tegakkanlah!”, sebuah makna yang lebih
mendasar dari sekedar “melaksanakan”. Kata “qum” menggambarkan jiwa
yang bangun, bangkit, hidup, dan tergerak dengan dasar motivasi demi
menjalankan sebuah perintah. Kekhususan perintah dalam kalimat “qum”
mengisyaratkan bahwa shalat bukanlah sekedar perintah “remeh” yang
hanya menjadi rutinitas ibadah harian seorang muslim, akan tetapi
shalat adalah bukti pertama kepatuhan setiap mukmin yang akan menjadi
ciri, jati diri sekaligus identitas IMAN dalam dirinya.
Maka
shalat sebagai “identitas iman” … shalat sebagai sesuatu yang harus
“ditegakkan” … dan shalat sebagai jalan menggapai pertolongan dan
kemenangan, tidak sepatutnya hanya dianggap sebatas “ibadah harian”
atau “kewajiban” seseorang yang menyatakan dirinya Islam. Akan tetapi
haruslah ia dipandang sebagai sesuatu yang sangat besar dan teramat
penting dalam hidup seorang muslim, sehingga ia harus dihadapi dengan
kesungguhan perhatian, ketelitian, kehati-hatian serta keseriusan.
Bahkan bukan hanya sekedar saat pelaksanaannya saja, akan tetapi
dibangun setahap demi setahap sejak adzandi kumandangkan hingga shalat
selesai di kerjakan. Begitupun hal-hal yang berkaitan dengan shalat
seperti bersih tempat dan pakaian hingga kaifiyat shalat, juga mesti di
jaga sebagaimana Allah memerintahkan dan Rasulullahg mencontohkan.
Dalam
upaya mewujudkan shalat yang tegak , Allah telah mensyariatkan
"langkah awal" sekaligus tahap penting yang harus di tempuh seorang
mukmin sebelum ia mengerjakan shalatnya...yang tanpa melaksanakannya
mustahil kita dapat mengerjakan shalat. satu tahap yang di sebut Allah
sebagai upaya pembersihan diri sehingga seorang mukmin menjadi diri yang
bersih..bersih fisiknya dan suci jiwanya. Kebersihan (kesucian) itulah
syarat mutlak seorang mukmin menemui Allah di dalam shalat. Dan syarat
pembersihan diri yang kita kenal dengan istilah wudhu itu di tetapkan
Allah dalam surat al Maidah ayat 6:
'Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu bangkit menuju shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan
jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat
buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak
memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);
sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Ayat ini
menyeru secara khusus kepada orang-orang beriman, yaitu orang-orang
yang hatinya sangat sensitif apabila nama Allah disebut ... hati yang
senantiasa terikat kepada Allah yang mengakibatkan selalu gemetaran dan
tergerak tatkala mendengar seruan-seruanNya.
Ketika
dirinya mendengar seseorang yang mengumandangkan “Allahu
akbar.....hayya’allas shalaah..!” menyeru dirinya, ingatan seorang
mukmin langsung kembali pada Allah sebagai Rabbnya dan Illahnya.
Hatinya yang peka langsung terkait (teringat) bahwa Rabb yang berkuasa
penuh atas dirinya tengah memanggilnya untuk shalat. Maka ia merasa tak
ada lagi hal yang lebih penting untuk dilakukannya selain bersegera
bangkit memenuhi panggilan tersebut. Itulah ciri hati seorang mukmin…ia
tidak akan diam saja ketika kebesaran dan kekuasaan Rabbnya telah
disebut-sebut, maka ia pun langsung bangkit (qum).
Kata
“qum” bukan hanya bermakna bangun/bangkit secara fisik. Apakah bangun
dari tidur atau bergerak dari diam, akan tetapi hati yang
tergerak/termotivasi karena kesadaran menerima sebuah perintah dan
bersengaja menjalankannya. Inilah ciri kemurnian iman, dimana hanya
Allah saja yang berkuasa di dalam hati itu… hanya Allah saja yang mampu
menggerakkan, memerintahkan, dan membuatnya bangkit. Dengan demikian
bangkitnya seorang mukmin dari diamnya… baik dari tidurnya, dari
istirahatnya, dari kesibukan-kesibukannya maupun dari aktivitas
duniawinya yang lain adalah hanya demi menegakkan ketentuan Allah. Maka
bangkitnya seorang mukmin setelah mendengar seruan adzan adalah demi
mengagungkan Allah sebagaimana seruan adzan yang ditujukan kepada
dirinya. Itulah bukti pengakuan atas keagungan Allah sekaligus
ketundukan dirinya di bawah keagungan tersebut… semuanya tertuang di
dalam shalat. Demikianlah ayat di atas berbicara tentang motivasi
seorang mukmin tatkala bangkit untuk shalat.
atkala
nampak oleh kita seseorang yang termotivasi kuat untuk bersegera bangkit
dari segala kesibukan dan keasyikannya demi memenuhi seruan adzan
untuk shalat, pastilah dalam benak kita yang “masih sehat” terbersit
sebuah tanya penuh rasa heran “bagaimana bisa ia melakukan semua itu?
betapa hebat dan pentingnya kedudukan shalat itu bagi seorang mukmin
hingga ia dapat mengalahkan dirinya dengan segala aktivitasnya”. Dan
hanyalah orang-orang beriman yang mampu menjawab pertanyaan itu
sebagaimana Al-Quran menjelaskan, yaitu karena shalat adalah jalan
utama menuju takwa…jalan utama memperoleh pertolongan…jalan utama
menggapai kemenangan.
Inilah kesadaran yang mesti dibawa
ketika seseorang melangkah menuju shalatnya, yaitu keinginan untuk
mendapatkan (mengambil) kekuatan yang mengokohkan, yang mampu
membuatnya berdiri tegak sebagai seorang mukmin yang siap mengemban
tugas-tugas dalam dien sebagaimana Allah memerintahkannya dalam surat
al-A’raf ayat 29 “dan tegakkanlah wajahmu (dirimu) di setiap tempat
sujud”. Maka jiwa seorang mukmin harus bangkit dan bergerak dengan
penuh kemantapan diri menuju shalat-shalatnya. Dan hendaklah dengan
shalat-shalat yang dikerjakannya itu jiwa seorang mukmin menjadi
bangkit dan kokoh pula. Karena di tiap-tiap tempat sujud (di tiap-tiap
shalat) itulah seorang mukmin mengambil kekuatan untuk mengokohkan
jiwanya.
Disinilah pentingnya membangun pengertian dan
pemahaman tentang shalat khusyu’ itu baik kedudukan maupun dampak yang
ditimbulkannya, karena tanpa kepahaman yang mantap tentang
kedudukan shalat, tidaklah akan seseorang bangkit dan bersegera
menegakkan shalat.
Namun sebelum seorang mukmin menerima
“kekuatan” dari Allah (melalui shalat khusyu’), terlebih dahulu Allah
memerintahkan dirinya untuk menunjukkan kepatuhannya pada Allah melalui
suatu upaya “patuh” yang pertama-tama harus ia lakukan yaitu “patuh”
menuju/mencari tempat yang terdapat air untuk mengerjakan wudhu dengan
patuh pula sebagaimana diperintahkan Allah dalam penggalan ayat
selanjutnya ...
“…maka basuhlah mukamu dan tanganmu
sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika
kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air
atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu…”
“…maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan
jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air
atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka
bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu…”
Perintah berwudhu yang utama
disebutkan dalam al-Quran adalah membasuh muka dan tangan sampai dengan
siku dan menyapu kepala dan kaki sampai dengan mata kaki. Membasuh dan
menyapu yang dimaksud adalah dengan basuhan air, begitu pula dengan
perintah mandi junub. Namun pengertian air disini tidaklah sama dengan
pengertian air dalam ilmu kesehatan. Air yang dimaksud bukan hanya untuk
membersihkan (secara fisik) saja akan tetapi juga bersih (suci) hingga
ke dalam jiwa. Hal itu tampak pada perintah bertayammum sebagai
pengganti wudhu.
Perintah tayamum adalah pengganti dari
wudhu dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan seperti kondisi sakit
yang tidak boleh terkena air atau ketika kita tidak menemukan air. Jika
dalam berwudhu kita diperintahkan menggunakan air, maka ketika kita
bertayamum kita diperintahkan menggunakan tanah yang bersih (bukan
debu). Jika kita pikirkan, dapatkah tanah membuat kita menjadi bersih
/suci ?
Atau dalam ketentuan lain, yaitu jika kita “buang
angin” setelah berwudhu, maka kita harus berwudhu kembali dengan
membasuh seluruh anggota wudhu dan bukan membersihkan tempat keluar
angin tersebut. Tampak jelas bahwa tujuan mendasar dari perintah wudhu
bukan hanya untuk membersihkan diri secara fisik, akan tetapi air untuk
wudhu maupun tanah untuk tayamum hanyalah syarat kepatuhan/ketundukan
seorang mukmin yang disyaratkan oleh Allah.
Maka jika
al-Quran mengatakan “cuci tanganmu sampai siku!”, maka benar-benar kita
cuci kedua tangan kita sampai dengan siku. Itulah wujud kepatuhan!
Begitupun ketika al-Quran memerintahkan “sapulah kepalamu dan dalam
sebuah hadist “celakalah tumit-tumit (yang tertinggal sewaktu
berwudhu)”. Itulah peringatan keras Rasulullah kepada para sahabatnya
agar mereka benar-benar memperhatikan wudhunya. Hal demikian beliau
lakukan karena kefahaman beliau yang mantap tentang makna penting dari
wudhu sebagaimana Allah menjelaskannya dalam penggal ayat selanjutnya …
“…
Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan
kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”
Melalui
perintah berwudhu (dengan cara mengusap anggota wudhu dengan air)
Allah seolah mulai mengarahkan langkah-langkah kita. Kemanakah arah
langkah yang mesti kita tuju setelah mendengar adzan, yaitu ke suatu
tempat yang terdapat air yang dapat mensucikan diri kita. Disanalah
anggota wudhu mulai dikendalikan, diarahkan, dan disucikan hingga layak
untuk menghadap Allah dalam shalat.
Tangan yang
sebelumnya digunakan untuk kesibukan-kesibukan dunia yang melenakan
mulai disucikan agar mantap di dalam bertakbir. Kepala yang sebelumnya
dipenuhi oleh pikiran-pikiran dunia yang melalaikan mulai disucikan
agar kembali teringat pada Rabb, begitupun kaki yang sebelumnya
digunakan untuk berjalan tak tentu arah mulai disucikan dan
dikembalikan menuju arah-arah yang ditunjukkan Allah. Artinya, mulai
saat itu semua organ tubuh kita diubah fungsinya hanya demi memenuhi
seruan Allah.
Begitulah cara Allah mempermudah kita pada
kesucian, sebagaimana Rasulullah menjelaskan bahwa dosa-dosa dari
anggota wudhu itu berguguran laksana air yang berjatuhan darinya.
Tatkala kita membasuh muka, maka hakekatnya kita bukan hanya sedang
membersihkan muka akan tetapi Allah juga membersihkan dosa-dosa dari
muka kita. Begitu pula saat kita membasuh tangan, kepala maupun kaki
kita, sesungguhnya Allah juga sedang “bertindak” mensucikannya dengan
mengampuni dosa-dosa yang melekat padanya. Demikianlah Allah
berkehendak untuk mensucikan kita dari dosa-dosa.
Jika
Allah telah berkehendak untuk mensucikan kita, maka Dia pula yang
berkehendak untuk menunjukkan caranya. Dan wudhulah sarana yang dipilih
Allah untuk mensucikan kita. Demikianlah Maha Pemurah-nya Allah. Hanya
dengan berwudhu telah ada jaminan dosa-dosa diampuni. Namun ironisnya
kita seringkali mengabaikan wudhu kita …Seringkali kita berwudhu
dengan sekedarnya hingga tak lagi dapat dibedakan antara berwudhu
dengan membasuh muka biasa. Seolah berat dan menyulitkan ketentuan
wudhu itu kita rasakan. Padahal Allah tidak bermaksud mempersulit kita
dengan ketentuanNya dalam berwudhu ini, justru Dia hendak membersihkan
kita dengan keampunanNya sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah :
“Shalat
yang difardhukan Allah ada lima. Barang siapa yang berwudhu dengan
baik, menegakkan shalat tepat pada waktunya, dan menyempurnakan ruku’,
sujud, dan kekhusyukannya maka Allah memberikan jaminan untuk
mengampuni dosa orang itu. Barangsiapa yang tidak melakukannya maka
Allah tidak menjaminnya. Jika menghendaki maka Dia mengampuninya dan
jika menghendaki maka Dia menyiksanya”
Ketika Allah telah
mengampuni dosa-dosa kita dengan wudhu maka menjadi sucilah kita. Dan
barulah kita layak menghadap Allah. Makin mantap dan terarah-lah kita
menuju shalat. Begitulah Allah mengarahkan kita pada kekhusyukan
shalat, yaitu dengan mensucikan dan menghadapkan kembali setiap anggota
tubuh untuk ingat dan tunduk pada Allah. Maka khusyuk di dalam wudhu
adalah jalan menuju kekhusyukan di dalam shalat. Inilah jalan kemudahan
yang dibentangkan Allah … Ini pula yang disebut dalam ayat di atas
bahwa Allah hendak menyempurnakan nikmat-Nya, yaitu dengan mengantarkan
kita kepada shalat yang khusyu’.
Demikianlah kesucian
(dengan wudhu dan shalat) menjadi syarat untuk dapat berhubungan dengan
Dzat Yang Maha Tinggi. Kesucian pula yang menjadi dasar / sebab untuk
dapat menerima nikmat yang sempurna, dimana Allah akan menuntun,
menambah, dan melengkapi petunjukNya secara bertahap dan terus menerus.
Jika
sebelumnya Allah telah memberikan kepada kita nikmat petunjukNya …
maka sekarang (melalui perintah berwudhu) Allah semakin menyempurnakan
nikmatNya, yaitu menambahkan petunjuk dan melengkapi petunjuk yang
sudah ada serta lebih memantapan diri dalam ber-al-Quran … menjadikan
al-Quran sebagai petunjuk di dalam hidup sebagaimana dijelaskan dalam
surat al-Waqiah ayat 77-79 : “sesungguhnya itu benar-benar al-Quran
yang mulia. Dalam kitab yang terpelihara. Tidak akan menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan”.
Pengertian
“menyentuh” dalam ayat di atas bukan bermakna memegang secara fisik
sebagaimana mungkin kita fahami selama ini yang melarang kita memegang /
membawa mushaf al-Quran tanpa berwudhu terlebih dahulu. Kata
“menyentuh” dalam ayat tersebut adalah kehalusan bahasa al-Quran
sebagaimana saat al-Quran menyebut kata “menyentuh” perempuan. Ia tidak
bermakna memegang atau bersinggungan kulit semata, akan tetapi
berbicara tentang makna yang lebih mendasar yaitu “bergaul
sebagai suami istri”.
Begitupun dengan kata “memegang” dalam ayat ini.
Pengertian
“Al-Quran” yang disebut dalam ayat di atas pun demikian. Al-Quran yang
dimaksud bukanlah al-Quran secara fisik sebagai mushaf (lembaran
kitab) sebagaimana al-Quran yang ada pada kita sekarang ini, karena
al-Quran yang tertulis secara lengkap sebagai mushaf belum dikenal di
masa Rasulullah. Dengan demikian al-Quran yang dimaksud bukanlah
al-Quran secara fisik, tetapi al-Quran secara “ruh” sebagai petunjuk
dan pegangan dalam hidup.
Demikianlah ayat di atas sedang
menjelaskan kepada kita tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar dari
sekedar memegang al-Qur’an secara harfiah akan tetapi bermakna lebih
tinggi yaitu mengambil, menggenggam, dan menjadikan al-Quran sebagai
petunjuk di dalam hidup.
Akan tetapi tidak akan seorang
pun mantap memegang al-Quran sebagai pedoman hidupnya, kecuali
orang-orang yang dipilih Allah, yaitu orang-orang yang disucikanNya. Dan
orang-orang yang disucikan Allah itu tiada lain adalah orang-orang
yang shalat (berwudhu lalu shalat) sebagaimana dijelaskan dalam surat
al-Maidah ayat 6 di atas. Dan begitu pula yang dijelaskan dalam surat al
A’la ayat 14-15 : “telah menang orang yang mensucikan dan mengingat
nama Rabbnya lalu ia shalat” Inilah korelasi yang tak terpisahkan antara
wudhu, shalat, dan kemenangan. Tak ada kemenangan tanpa shalat, dan
tak pernah ada shalat tanpa wudhu.
Ketika seorang mukmin
telah mantap mengambil al-Quran, lalu menjadikannya sebagai
satu-satunya petunjuk dalam hidupnya, maka tiap langkahnya adalah
langkah yang senantiasa terbimbing oleh petunjuk. Itulah hidup yang di
atas petunjuk … hidup yang di atas kemenangan sebagaimana janji Allah
dalam seruan adzan “hayya ‘ala shalah … hayya ‘alal falah”. Saat itulah
seorang mukmin sampai pada tingkat syukur, yaitu mampu menjalankan
setiap ketentuan Allah sebagaimana kita fahami kata syukur adalah
lawan kata dari kata kufur (ingkar).
Dan ketika semua
ketentuan Allah tegak dalam diri dan kehidupannya, maka saat itulah
disebut kemenangan! Demikianlah Allah menyempurnakan dien setiap mukmin
… membimbingnya terus-menerus, setahap demi setahap hingga dien itu
tegak di dalam diri. Sebagaimana Allah menyempurnakan dien pada diri
Rasulullah melalui bimbinganNya sejak wahyu pertama (al-Alaq 1-5).
Ketika
turun wahyu pertama dan Rasulullah berhasil melaksanakannya, itulah
kemenangan! Ketika turun wahyu kedua (surat Muzzammil) lalu Rasulullah
berhasil melaksanakannya, itulah kemenangan! Ketika turun wahyu ketiga
(surat mudatstsir) dan Rasulullah pun berhasil melaksanakannya, itulah
kemenangan! Dan demikianlah tahap “Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu…”
Ingatan
inilah yang mesti dibawa ketika seseorang bergerak bangkit menuju
tempat shalatnya, bahwa ia akan bertemu (menghadap) kepada Rabb yang
selama ini telah melimpahkan nikmat kepada dirinya. Akan tetapi tidak
semua orang dapat mengingat karunia Allah itu … hanyalah orang-orang
beriman yang hatinya mampu merasa bahwa ia telah benar-benar menerima
petunjuk dari Allah dan mampu merasakan bahwa petunjuk tersebut adalah
nikmat baginya dan iman (kemampuan menjalankan petunjuk) itu pun nikmat
baginya.
Itulah perasaan seorang yang iman dalam
menghayati setiap datangnya ketentuan Allah. Maka motivasinya dalam
berbuat adalah karena dorongan perasaan seseorang yang telah merasa
menerima nikmat lalu tergerak mewujudkan nikmat tersebut. Mereka itulah
orang-orang yang akhirnya dapat menghayati dan merasakan bahwa wudhu
yang mereka laksanakan bukanlah beban yang menyulitkan akan tetapi
sebuah nikmat dari Allah … dan shalat yang mereka tegakkan bukanlah
kewajiban yang memberatkan, akan tetapi itu adalah juga nikmat dari
Allah. Kepada merekalah ayat ini menyeru, bahwa hanyalah mereka yang
akan disempurnakan nikmatnya oleh Allah setahap demi setahap mulai dari
adzan, wudhu, shalat khusyu’ hingga pada tingkat syukur dan menang.
“…dan
perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu
mengatakan: "Kami dengar dan kami taat”. Dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu)"
Nikmat lain
yang mesti diingat dan disadari oleh seorang hamba yang hendak
menghadap Rabbnya adalah perjanjian yang telah Allah ikatkan kepada
dirinya. Dapat kita bayangkan bahwa Allah, Rabb yang menggenggam
seluruh hamparan langit dan bumi telah mengikatkan diriNya yang begitu
Agung dengan kita, satu makhluk yang amat kecil dari bagian jagad raya
yang digenggamanNya tersebut. Alangkah Maha Besarnya Allah dan alangkah
kecilnya kita. Inilah nikmat Allah lainnya yang juga mesti diingat dan
disyukuri, dimana seorang hamba yang rendah telah diangkat /
ditinggikan derajatnya oleh Allah. Bagaimana tidak … seorang makhluk
sekecil ini menjalin perjanjian dengan Yang Maha Besar … hamba serendah
dan sehina ini menjalin perjanjian dengan Yang Maha Tinggi lagi Maha
Mulia. Bukankah ini berarti Allah telah mengangkat kita dari kehinaan
seorang makhluk?
Perjanjian yang mesti diingat itu adalah
perjanjian iman untuk “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami taat).
Inilah makna iman yang sebenarnya, makna iman yang telah ditetapkan
oleh Allah.
Makna iman bukanlah sekedar mempercayai
adanya Allah, Malaikat, Rasul-Rasul, Kitab-kitab, qodho’ qodhar dan
hari akhir, akan tetapi iman yang dijelaskan dalam ayat di atas
menyentuh pengertian iman yang lebih mendasar. Hakekat iman
sesungguhnya menuntut sebuah konsekuensi dan pembuktian yang nyata,
yaitu janji “sami’na wa atho’na”, yaitu janji untuk “mendengar” yang
berarti menghadapkan diri sepenuhnya kepada apa-apa yang akan didengar
oleh telinga dan hatinya, yaitu apa-apa yang diturunkan Allah
(al-Quran) beserta penjelasan, penjabaran, serta contoh yang
disampaikan RasulNya, untuk selanjutnya ditaati / dilaksanakannya (wa
atho’na).
Hanya dua sumber itulah yang akan menjadi
rujukan kepatuhan seorang mukmin di dalam berbuat. Dua sumber itu
pulalah yang akan menjadi “pembatas” diri seorang mukmin, dimana ia
hanya akan berbuat sesuatu karena ia “mendengar” bahwa hal itu
sungguh-sungguh diperintah oleh Rabbnya untuk dilaksanakannya ...maka ia
patuh! Demikian pula ia akan menjaga / menahan dirinya untuk tidak
berbuat sesuatu karena ia “mendengar” bahwa hal itu telah nyata
dilarang oleh Rabbnya... maka ia pun patuh!
Demikianlah
takwa itu muncul dalam setiap perbuatan orang-orang beriman, dimulai
dari inspirasi, motivasi, selanjutnya tujuan dalam perbuatannya adalah
hanya demi mengharap penilaian dari Rabb, karena ia tahu bahwa Rabbnya
adalah penggenggam hatinya … Yang tahu segala motivasi dan tujuan
dirinya di dalam berbuat.
Namun jika suatu ketika …
setelah pernyataan janji untuk sami’na wa atho’na takwa itu tidak lagi
muncul (ada kecenderungan dalam hati kita untuk ingkar), maka Allah
memperingatkan “bertakwalah kepada Allah” yang bermakna kembalilah
lurus menepati janji sami’na wa’atho’na atau takutlah kepada Allah
karena Allah adalah Rabb yang mengetahui segala isi dan gerak di hati.
Dan hanyalah orang-orang yang kokoh dengan shalatnya yang mampu tetap
tegak menjaga perjanjiannya dengan Allah.
Demikianlah
ketinggian dan kedalaman bahasa al-Quran yang dapat kita rasakan dari
penggalan surat al-Maidah. Mungkin sebelumnya tak terbayang oleh kita
bahwa wudhu yang sering kali kita remehkan ternyata justru menyimpan
kekuatan besar di dalamnya. Percikan air yang mengenai tubuh kita bukan
hanya membasahi dan menghidupkan sel-sel kulit kita yang mati atau
membersihkan kotoran debu yang menempel, namun sejatinya adanya tangan
Yang Maha Pemurah sedang membangunkan kita dan menyentuh kita dengan
sifatNya Yang Maha Pengampun, memberikan kita kekuatan, dan menjanjikan
kita sebuah kemenangan sejati.
Demikianlah wudhu adalah
tahap penting dari sesuatu yang besar … sebuah langkah awal yang harus
ditempuh seorang mukmin yang ingin meniti jalan kemenangannya.
Senin, 25 Februari 2013
Peringatan Bagi Orang Yang Mengikuti Rasulullah Muhammad SAW
Surat Abasa ini adalah bukti bahwa Alquran bukanlah kitab yang dibuat oleh Muhammad SAW , surat inilah yang merubah total alam berfikir beliau yang awalnya masih terbawa logika dalam melaksanakan perintah Allah SWT , masih menilai manusia itu dari strata hidup dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang ada . dalam surat ini nampak jelas beliau ditegur dengan amat keras oleh Allah SWT , bahwasanya seluruh cara beliau menilai manusia , logika berfikir beliau tentang cara menyebarkan dan memperjuangkan dakwah beliau itu adalah SALAH . Inilah Surat yang memberikan pelajaran serta bukti bahwasanya Muhammad Rasulullah SAW bukanlah manusia yang langsung jadi turun dari langit untuk menyampaikan risalah , beliau itu adalah manusia yang sama dengan kita yang juga menjadi pelaku dari risalah yang turun kepada beliau .
adalah pantas kita harus mendengarkan kajian surat abasa ini , agar jangan sampai kita itu kemudian lalai dan terperangkap selalu dalam budaya dan tata nilai yang dibuat oleh manusia , agar kita tidak pula menjadi orang yang selalu berlogika beranggapan kita lebih hebat dari Allah lalu mencari metode lain dalam berdakwah dengan beranggapan bahwa metode yang dikerjakan itu akan dapat membantu kelancaran dakwah dan kemenangan islam .
rekaman kajian surat abasa
Label:
alquran,
hikmah,
rekaman,
surat makkiyah
Lokasi:
Surabaya, Indonesia
Sabtu, 19 Januari 2013
Mungkinkah sejarah terulang .....
Sering Kali dan berulang-ulang Didalam Alquran Allah menceritakan bagaimana Dia telah membinasakan suatu kaum karena kedurhakaan mereka kepada Nya , kita tahu bahwa mereka itu (kaum yang Allah binasakan) adalah kaum yang tidak lagi mau tunduk dan patuh kepada Allah dan bahkan dengan terang-terangan mereka menunjukkan kedurhakaan mereka , mereka buat kerusakan dimuka bumi ini , mereka sudah tidak yakin dan perduli dengan Allah yang Maha Kuasa .
Namun pernah terpikirkankah diotak kita apa yang menjadi latar belakang kedurhakaan mereka ?, pernahkah kita tahu apa yang menjadi sebab mereka menjadi manusia yang sudah tidak perduli dan yakin lagi kepada Allah ?.
Marilah kita sama-sama simak kajian surat Al Fajr yang menjelaskan bagaimana Allah memberikan kepada kita suatu petunjuk bahwa apa yang menjadi sebab manusia itu menjadi durhaka kepada Allah SWT , agar kita tidak menerima nasib yang sama seperti mereka ...
Jumat, 21 Desember 2012
Minggu, 09 Desember 2012
Iman atas dasar apakah ?
Sesungguhnya
pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)
untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada
binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada
pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit
lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada
perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan
sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman
sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. (45:3-6)
Alam semesta ini merupakan kitab kebenaran yang terbuka yang dapat di
baca oleh setiap bahasa, bisa di kenali dengan segala cara dan sarana,
dan bisa di telaah oleh orang biasa yang diam di kemah-kemah dan
gubuk-gubuk, sebagai mana juga dapat di teliti oleh manusia berbudaya tinggi yang tinggal di gedung-gedung dan istana.
Setiap orang dapat menelaahnya selaras dengan kadar pemahaman dan
kesiapannya. Lalu, ia meraih bekal kebenaran dari padanya, jika ia
menelaahnya dengan semangat mencari kebenaran. Kitab ini terbuka setiap
saat Untuk menjadi pemikiran dan peringatan bagi setiap hamba yang
kembali kepada-Nya.
Namun, ilmu modern telah memadamkan
pemikiran ini atau telah memutus tali ikatan antara kalbu manusia dengan
alam yang bercerita dengan terang. sebab, ilmu itu berada di kepala
orang buta yang selalu dipalingkan oleh slogan 'Metode ilmiah" metode
yang memutuskan hubungan antara alam semesta dengan makhluk yang tinggal
di dalamnya
Namun, ilmu modern telah memadamkan pemikiran ini atau telah memutus tali ikatan antara kalbu manusia dengan alam yang bercerita dengan terang. sebab, ilmu itu berada di kepala orang buta yang selalu dipalingkan oleh slogan 'Metode ilmiah" metode yang memutuskan hubungan antara alam semesta dengan makhluk yang tinggal di dalamnya
Rabu, 05 Desember 2012
dimanakah letak Kemulian Allah atas Manusia
banyak umat islam sekarang ini yang mengukur kemulian , kemurahan , berkah , rahmat yang Allah berikan kepada manusia diukur dari banyaknya harta , banyaknya rejeki , status sosial , kedudukan , pangkat dan masih banyak lainnya .
cara ukur seperti inilah yang mengakibatkan tatkala diri ini tak mempunyai apa yang seperti disangkanya maka diri merasa bahwa Allah tak pernah menganggapnya , bahkan akhirnya beranggapan bahwa segala amal ibadahnya selama ini hanyalah sia-sia , percuma , dan mulai mengambil keputusan untuk tidak lagi menjalankan petunjuk Allah . begitulah cara ukur yang mulai menjangkiti umat islam sekarang ini . padahal tahukah mereka dimana letak Allah memuliakan manusia . ketidak tahuan akan petunjuk Allah (alquran) akan membuat manusia salah dalam mengambil keputusan . marilah coba kita kaji ayat-ayat Allah yang ada didalam alquran agar jelas bagi kita apa yang sebenarnya kehendak Allah atas kita ....
cara ukur seperti inilah yang mengakibatkan tatkala diri ini tak mempunyai apa yang seperti disangkanya maka diri merasa bahwa Allah tak pernah menganggapnya , bahkan akhirnya beranggapan bahwa segala amal ibadahnya selama ini hanyalah sia-sia , percuma , dan mulai mengambil keputusan untuk tidak lagi menjalankan petunjuk Allah . begitulah cara ukur yang mulai menjangkiti umat islam sekarang ini . padahal tahukah mereka dimana letak Allah memuliakan manusia . ketidak tahuan akan petunjuk Allah (alquran) akan membuat manusia salah dalam mengambil keputusan . marilah coba kita kaji ayat-ayat Allah yang ada didalam alquran agar jelas bagi kita apa yang sebenarnya kehendak Allah atas kita ....
silahkan klik disini
berikan komentar atau sekiranya ada yang hendak ditanyakan silahkan isi dikolom komentar
terima kasih
Selasa, 27 November 2012
mengikuti dan mentaati rasulullah
berbagai banyak macam cara manusia yang beragama islam berbuat sesuatu , berharap agar mereka dapat dekat kepada rasulullah Muhammad SAW , bahkan berharap mendapatkan wasilah (pertolongan) kelak di akhirat nanti . baik dari bershalawat kepadanya , menyenandungkan pujian-pujian kepadanya , menciptakan syair-syair yang indah untuk rasulullah Muhammad SAW . adapula yang bersikap , berbuat , meniru semua cara berpakaian nabi , cara makan beliau , bahkan sampai penampilannya . apakah itu semua keliru ? , tak pantas kiranya saya menilai apakah itu benar atau salah . Allah SWT adalah yang memilih dan menjadikan siapa yang pantas dijadikan nabi atau rasul dimuka bumi ini , tentu Dia lah yang lebih tahu apa dan siapa rasul itu , apa dan bagaimana yang diperbuat oleh rasul itu , serta apa dan bagaimana seharusnya mencontoh rasul itu . Maka Allah pulalah satu-satunya yang pantas menilai benar atau salahnya perbuatan kita dalam mencontoh serta meniru rasulullah Muhammad SAW .
Tentu satu-satunya sumber informasi yang benar dalam cara bagaimana seharusnya sikap dan perbuatan kita agar dapat mengikuti rasulullah itu adalah ALQURAN . karena alquran lah satu-satunya sumber yang datangnya dari Allah SWT . yang menceritakan siapa sebenarnya rasulnya itu dan bagaimana sikap seorang rasul itu .
Ada baiknya kita dengarkan kajian alquran ini yang dibahas oleh almarhum Buya Rusdi Malik Ahmad agar jelas bagi kita bagaimana seharusnya kita mengikuti rasulullah itu
silahkan klik disini dan selamat mendengarkan
kajian ustad buya rusdi malik ahmad
kajian ustad buya rusdi malik ahmad
Senin, 26 November 2012
Masjid Allah versus bukan Masjid Allah
Umat islam di indonesia boleh berbangga hati dengan semakin banyaknya bangunan masjid dimana-mana , bahkan bangunannya terlihat elok , indah dan besar . hampir disegala pelosok penjuru perkotaan sampai kepedesaan . namun benarkah bangunan yang dibangun itu adalah masjid yang dimaksud itu adalah rumah Allah ? . kalaulah memang masjid yang dibangun itu adalah rumah Allah . benarkah pembangunannya berdasarkan petunjuk Allah ? bahkan sampai ke pen "Ta'mir"annya berdasarkan hukum Allah ? . sungguh akan menjadi ironi sekiranya bangunan masjid nan megah itu Allah sendiri tidak pernah menilai bahwa bangunan masjid itu adalah rumah Allah yang dimana didalamnya itu adalah tempatnya orang untuk mendapatkan petunjuk .bahkan yang lebih kerasnya lagi bagaimana sekiranya ternyata Allah bahkan melarang kita untuk berkecimpung untuk mengurusi dimasjid itu .... inilah yang seharusnya kita tahu dari awal apa dan bagaimana seharusnya masjid itu dibangun dan siapa saja yang boleh mengurusi masjid itu ... agar kita tidak tersesat dan beranggapan bahwa Allah tidak pernah memberikan petunjuknya dalam membangun dan mengurusi masjid .
dengarkanlah kajian yang sangat menarik dari almarhum buya rusdi malik ahmad yang dapat memberikan kita hikmah dan pelajaran dari ayat-ayat alquran yang membahas bagaimana Allah telah mengatur apa dan bagaimana membangun masjid serta siapa yang pantas untuk mengurusi masjid itu
silahkan klik disini untuk dapat langsung mendengarkan kajian tersebut
silahkan untuk mendowload dan boleh untuk disebar luaskan .... agar seluruh umat muslim tahu
Sabtu, 24 November 2012
Fitrah Allah
“ Maka tegakkanlah wajahmu untuk Din dalam keadaan Hanif (
lurus). (itu adalah) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia diatas
fitrah itu. tidak ada perubahan untuk ciptaan Allah. Din itulah yang
mantap akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (jadilah kamu)
orang yang mengembalikan (segala urusan) kepada-Nya dan bertakwalah
kamu kepada-Nya serta tegakanlah shalat dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang musyrik. (Yaitu) orang-orang yang memecah-belah Din
mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa
bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. ( Ar-Rum ; 30-32 )
Wahyu
Allah ternyata memang bukan untuk diilmui saja. Bukan untuk di
perdebatkan d itengah forum diskusi dan seminar. Bukan untuk di
perlombahkan. Bukan untuk sekedar di jadilan hiasan. Tetapi Wahyu Allah
adalah untuk di terapkan dalam segala gerak-gerik kehidupan. Seluruh
denyut nafas. Seluruh langkah kaki, setiap ayunan tangan, serta semua
bentuk aktifitas. Tiada terkecuali. Semua itu mesti berjalan sesuai
wahyu.
Itulah fitrah. Kejadian dasar dan modal
utama yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia semenjak awal
kejadian (penciptaan manusia). Sepanjang sejarah fitrah itu tidak pernah berubah. Itu pulalah
Din yang mantap, pola hidup yang murni yang terjamin kebenarannya.
Namun banyak juga manusia yang tidak tahu,baik karena ketidak acuhanya
atau kerena betul-betul tidak tahu.
Walupun
begitu, selagi ada kemauan untuk berubah kebiasaan diri, untuk
mengembalikan semua urusan kepada sang pencipta (Allah) , dengan meningkatkan
ketaqwaan, mendahulukan ketentuan Allah dan Rasul-Nya dari yang lain,
serta nampak ciri utamanya sebagai orang-orang yang mengerakkan shalat
dan berhati-hati agar tidak tejerumus kedalam lembah perpecahan seperti
oerng-orang musyrikyang menjadi berpecah-pecah dan merasa bangga dengan
apa yang mereka miliki.
silahkan klik disini
catatan Riko Syafei
Selasa, 20 November 2012
Munafik
Alquran mengurai begitu jelas ciri dan watak orang munafik , sehingga tidak ada yang samar . kemunafikan adalah sesuatu yang amat paling berbahaya didalam segala lini kehidupan beragama , sehingga Allah perlu menjelaskan dengan jelas dan terang agar orang-orang yang beriman dapat selamat dalam kehidupan baik dalam bermasyarakat maupun bernegara . namun sadarkah kita bahwa kadang kala ciri-ciri orang-orang munafik yang dijelaskan Allah didalam alquran ternyata menempel didalam diri kita ? .
inilah kajian alquran yang dijelaskan oleh almarhum ustad Buya Rusdi Malik Ahmad tentang bagaimana Allah menggurai ciri orang munafik didalam surat Attaubah
At Taubah side A
At Taubah Side B
inilah kajian alquran yang dijelaskan oleh almarhum ustad Buya Rusdi Malik Ahmad tentang bagaimana Allah menggurai ciri orang munafik didalam surat Attaubah
At Taubah side A
At Taubah Side B
Fitnah atas Dienullah
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang
Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan
mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir
yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai
berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka
sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al
Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha
suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak
memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka,
dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun
orang-orang yang kafir tidak menyukai. (at-Taubah: 30-32)
Dialah yang telah mengutus RasulNya dengan petunjuk dan Diin yang haq.
untuk di dhahirkan/nyatakan dia (rasul) atas Diin itu segala sesuatunya,
walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai (at Taubah;33)
Berbicara Diin Allah ini pasti kita berbicara para Rasul Allah, karena
merekalah orang-orang pilihan yang di utus Allah kepada manusia untuk
menyampaikan apa yang menjadi risalah-Nya bagi manusia, dan sebagai
satu-satunya sumber yang paling berhak berbicara dan di ikuti tentang
Diin Allah ini, dan juga sebagai orang pertama yang akan melaksanakan
risalah tersebut untuk memberi contoh kepada manusia..BaGAIMANA
SEHARUSNYA MANUSIA MELAKSANAKAN RISALAH ITU!. Sehingga mereka menjadi
cahaya terang dan petunjuk yang menerangi jalan menuju Allah ( Shirothol
mustaqim) dan menjadi jelas dan terang benderanglah segala segi dari
Diin Allah ini.
Namun hawa nafsu orang-orang musyrik dengan
segala watak kekafiran mereka yang tercermin dan terorganisir dalam
sistim dan masyarakatnya, dalam konsepsi dan pemikirannya, selalu
berusaha untuk menghalangi dan mencegah dakwah dan tegaknya Diin Allah
ini hingga menjadi wujud dengan jelas serta menjadi sistim kehidupan
yang mengatur kehidupan manusia.
Mereka perangi Diin Allah ini
dengan segala cara. Mereka fitnah dengan berbagai teori, argumentasi,
dan tipu daya, sehingga konsepsi aqidah, syariah, dan ajarannya menjadi
rusak. Dan fitnah terbesar mereka itu adalah dengan berusaha untuk
mengaburkan dan menghilangkan, serta mengeluarkan kepemimpinan para
Rasul Allah dari Diin Allah ini agar tidak lagi menjadi satu-satunya
sumber, bukti, rujukan, dan panutan. Dan mereka coba menggantikannya
dengan figur-figur yang sengaja di tokohkan untuk di jadikan panutan
untuk kemudian berbicara atas nama agama Allah tanpa dasar petunjuk yang
haq, untuk kemudian mereka robah aqidah dan syariatnya sesuai dengan
hawa nafsu mereka, sebagaimana mereka telah berhasil merusak konsepsi
aqidah dan syariat pada risalah-risalah sebelumnya, seperti yang di
lakukan orang-orang kafir dari kalangan bani israil terhadap Rasul-Rasul
mereka. Yakni. Para pemimpin, pendeta-pendeta, dan para rahib sehingga
terfitnahlah para pemeluknya dari Diin Allah yang haq
Namun
Allah tidak membiarkan semua itu terjadi. Dia mengutus Muhammad sebagai
Rasul-Nya untuk membawa dan menjelaskan Diin yang haq kepada manusia.
Dan mengariskan suatu metode bekerja di dalam menghadapi semua itu. Dan
metode Diin Allah ini amat jelas di paparkan oleh kelompok ayat-ayat ini
' Dia lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (metode) dan
Diin yang Haq untuk di dhahirkannya(Rasul) atas Ad Diin segala
sesuatunya tentang Diin Allah itu walaupun orang-orang kafir berusaha
keras untuk menghalang-halanginya."
Jadi dengan
mendhahirkannya dan menampakkan Rasul itu atas Ad Diin ini tiap-tiap
sesuatunya. Adalah gambaran dari bentuk Diin Allah itu sendiri dan juga
hal yang membedakan risalah terakhir ini dengan risalah-risalah
sebelumnya. Kalau pada risalah yang sebelumnya kitab Allah sebagai
petunjuk di turunkan sekaligus sebagaimana pada risalah yang di bawa
oleh Musa, maka pada risalah terakhir ini, Dinnul Islam ini di awali, di
bentuk, dan di tegakkan secara bertahap melalui metode penurunan Al
Quran secara bertahap, kelompok demi kelompok ayat, masalah demi
masalah, dimana tidak akan turun suatu kelompok ayat sebelum sasaran dan
target dan apa yang menjadi ketentuan Allah di dalam kelompok ayat-ayat
sebelumnya tercapai. Sehingga tergambarlah segala segi dari pelaksanaan
dan perbuatan Rasulullah itu sebagai Sunnahnya yang merupakan gambaran
dari pelaksanaan penegakkan Diin ini secara benar dan secara
prinsip-prinsip iman menjadi ketentuan-ketentuan yang harus di ikuti dan
di teladani dan merupakan ketentuan yang tak dapat di batalkan dan di
robah oleh siapapun.
Sejak awal beliau menerima wahyu sampai
Diin ini telah sempurna berdiri yang langsung menjadi contoh dan telah
tertulis secara abadi di dalam kitab Allah Al Quran. Maka hal itu
sebagai petunjuk atas bukti dan sunnahnya dan menjadikan keharusan
mengikuti Sunnah Rasul-Nya sebagi suatu ketentuan yang mutlak di dalam
Diin ini, dan sebagai prinsip aqidah dan iman dan bentuk keimanan
atasDiin itu sendiri. Maka tertutuplah celah bagi manusia yang lain
untuk turut campur di dalam berbicara dan membuat-buat ketentuan di
dalamnya, DAN INILAH DIIN YANG HAQ!!
Muhammad sebagai
Rasulullah telah di jadikan contoh di dalam AL Quran bagaimana beliau
telah berjuang untuk menegakkan Diin ini di atas suatu garis yang telah
di tentukan Allah metodenya, tanpa Beliau perlu membuat-buat strategi
sendiri menurut analisa pemikirannya, atau berpolitik menurut pendapat
Beliau sendiri. Maka risalah inipun menjadi bersih dan suci tanpa
tercampur hawa nafsu beliau sendiri sebagai pribadi. Karena Risalah
Allah ini sudah lengkap, baik konsepsi aqidahnya, syariatnya dll, maupun
metode di dalam memperjuangkannya dan berlaku di masa apapun sampai
hari kiamat. Tinggal melaksanakan saja dengan lurus!
Dengan
metode yang telah di gariskan Allah inilah Rasul berjuang di dalam
menghadapi segala bentuk penghalang dan hambatan dari musuh islam
sehingga gagallah segala usaha mereka dan menanglah Rasul itu. Yaitu..
Apa yang menjadi target dan sasaran wahyu menjadi terlaksana dan tegak
semua apa yang menjadi ketentuan-ketentuan Allah di dalamnya, walaupun
telah di coba untuk di halang-halangi dan di cegah oleh orang-orang
kafir dan menjadi wujudlah Diin Allah ini di dalam tiap-tiap persoalan
yang telah di tentukannya secara nyata. Sehingga apapun persoalan dan
ketentuan dalam Diin ini, sampai di tingkat strategi perjuangannya
sekalipun, pasti telah ada sunnah Rasulullah sebagai contoh, ukuran dan
panutan tempat kembali.
Sungguh, kesesatan itu adalah apabila
kita menghilangkan sunnah Rasulullah di dalam urusan apapun pada Diin
Allah ini, dan menggantikannya dengan Figur-figur dan sosok-sosok
manusia yang lain sebagai sumber yang berbicara tentang Diin Allah ini,
sehingga terbukalah pintu fitnah dan rusaklah Diin ini sebagaimana
fitnah yang menimpa agama orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka hancurlah
umat ini sepeti umat-umat sebelumnya
nb: terjemahan ayat 30-32 adalah versi terjemahan Depag
terjemahan ayat 30 terambil dari kitab terjemahan secara nahwu syaraf ' Yasarnal Quran"
Kamis, 15 November 2012
Jalan Hidup umat sesungguhnya
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (62:2-
3)
Al Quran ini tidak akan mengungkapkan rahasia-rahasianya kecuali kepada orang-orang yang terjun ke kancah pertempuran dan melakukan perjuangan yang besar melawan kejahiliyahan. Sesungguhnya hanya mereka sajalah yang hidup dalam suasana saat AL Quran di turunkan berkenaan dengannya. Oleh karena itu, mereka merasakannya dan mengetahuinya, karena diri merekalah yang menjadi sasaran wahyu secara langsung, sebagaimana yang di alami oleh kaum muslimin generasi pertama, mereka merasakannya, mengetahuinya, dan bergerak dengannya...
Jalan hidup umat ini amat jelas... Yaitu mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah di tetapkan oleh al Quranya, dan mengikuti jejak para Assabiqunal Awwalun di dalam ber-Al Quran dan ber-Rasulullah sebagai generasi pendahulu yang telah memahaminya...
Inilah jalan hidup mereka...!!
Segala puji bagi Allah di dunia dan di akhirat...
Al Quran ini tidak akan mengungkapkan rahasia-rahasianya kecuali kepada orang-orang yang terjun ke kancah pertempuran dan melakukan perjuangan yang besar melawan kejahiliyahan. Sesungguhnya hanya mereka sajalah yang hidup dalam suasana saat AL Quran di turunkan berkenaan dengannya. Oleh karena itu, mereka merasakannya dan mengetahuinya, karena diri merekalah yang menjadi sasaran wahyu secara langsung, sebagaimana yang di alami oleh kaum muslimin generasi pertama, mereka merasakannya, mengetahuinya, dan bergerak dengannya...
Jalan hidup umat ini amat jelas... Yaitu mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah di tetapkan oleh al Quranya, dan mengikuti jejak para Assabiqunal Awwalun di dalam ber-Al Quran dan ber-Rasulullah sebagai generasi pendahulu yang telah memahaminya...
Inilah jalan hidup mereka...!!
Segala puji bagi Allah di dunia dan di akhirat...
Langganan:
Postingan (Atom)




